Jakarta DPDA ( Aceh dalam berita ) Jum’at 4-9–2026 Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin Thahir, S.Pd.I., M.Pd.I., bersama Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Aceh melakukan audiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Teuku Riefky Harsya di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
Di pertemuan tersebut turut hadir Anggota DPRA Romi Syahputra. Audiensi membahas sejumlah agenda strategis, terutama terkait pemberdayaan ekonomi dayah, peringatan Hari Santri 2026, serta rencana pelaksanaan Expo Santri 2026.
Pemberdayaan ekonomi dayah menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan tersebut. Dayah diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pembinaan keagamaan, tetapi juga mampu mengembangkan potensi ekonomi yang melibatkan para santri.
Pengembangan ekonomi kreatif di lingkungan dayah dinilai dapat menjadi ruang bagi santri untuk mengasah keterampilan, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan. Potensi tersebut selanjutnya dapat diarahkan menjadi kegiatan ekonomi produktif yang memberikan manfaat bagi dayah dan masyarakat.
Selain itu, pembahasan juga diarahkan pada persiapan Hari Santri 2026 yang menjadi momentum penting untuk memperkuat peran dan kontribusi santri dalam berbagai bidang kehidupan.
Sementara itu, Expo Santri 2026 direncanakan menjadi wadah untuk menampilkan berbagai potensi, kreativitas, serta produk yang dihasilkan para santri dan dayah di Aceh.
Melalui kegiatan tersebut, produk dan karya santri diharapkan tidak hanya dikenal di lingkungan lokal, tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas melalui dukungan ekosistem ekonomi kreatif.
Audiensi antara Disdik Dayah Aceh, Komisi VII DPRA dan Kementerian Ekonomi Kreatif juga diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan kapasitas dan kemandirian ekonomi dayah.
Kolaborasi pemerintah pusat dan daerah tersebut dinilai penting agar potensi besar yang dimiliki dayah dan santri dapat dikembangkan secara berkelanjutan, sekaligus menjadi bagian dari penguatan ekonomi kreatif di Aceh

Di tempat terpisah melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh mengajak para santri dan ulama untuk terus menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus merawat perdamaian Aceh yang telah terbangun.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin S.Pd.I., M.Pd.I., saat menjadi inspektur Apel Tahunan Dayah Perbatasan Darul Amin di Aceh Tenggara, Kamis (20/8/2026).
Apel tahunan tersebut diikuti para santri, orang tua santri, dewan guru, serta sejumlah tamu undangan.
Dalam amanat Muhsin mengatakan, perjalanan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran santri dan ulama. Perjuangan tersebut tidak hanya dilakukan melalui perlawanan terhadap penjajahan, tetapi juga melalui pendidikan dan pembentukan karakter generasi bangsa.
Pesantren memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa, mulai dari perjuangan melawan penjajahan, merebut kemerdekaan, hingga mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kadis Pendidikan Dayah mengatakan, dayah memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman agama, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara. Karena itu, santri diharapkan meneruskan semangat perjuangan para pendahulu melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pengabdian kepada masyarakat, serta menjaga persaudaraan sesama anak bangsa.
Tantangan yang dihadapi santri saat ini berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui perlawanan fisik, kini santri menghadapi tantangan zaman melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kemampuan menyelesaikan berbagai persoalan sosial. Jihad hari ini tidak lagi kita artikan sebagai pertempuran fisik dengan mengangkat senjata, tetapi perjuangan intelektual yang penuh semangat dalam membantu umat menyelesaikan problematika kehidupan, sebut Muhsin.
Dalam hal ini Muhsin berharap upaya tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan dayah yang memperkuat pemahaman agama, ilmu pengetahuan, akhlak, wawasan kebangsaan, serta nilai-nilai perdamaian. para santri terus berkarya dan mengambil bagian dalam pembangunan bangsa. Silaturahmi dan persaudaraan juga perlu terus dirawat sebagai modal penting dalam menjaga persatuan.
“Santri Diminta Rawat Perdamaian Aceh”
Selain menjaga keutuhan NKRI, secara khusus mengingatkan para santri untuk ikut merawat perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade, menurut Kadis Dinas Pendidikan Dayah Aceh ini, nilai-nilai perdamaian perlu ditanamkan kepada generasi muda agar pengalaman konflik masa lalu menjadi pelajaran dan tidak kembali terulang.
Juga ,Kadis Pendidikan Dayah Aceh meminta untuk selalu Jaga keutuhan dan kesatuan NKRI, hormati Pancasila, UUD 1945, amalkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan hormati pula perjanjian damai MoU Helsinki sebagai bagian penting dari perjalanan perdamaian Aceh. karena santri di nilai memiliki peran penting dalam menjaga suasana damai karena pendidikan dayah tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat pengabdian atau khidmah kepada masyarakat.
“Jadi Benteng Akidah di Perbatasan”
Muhsin Thahir juga mendorong para santri Dayah Perbatasan Darul Amin untuk menjadi benteng akidah sekaligus penjaga nilai kebangsaan di wilayah perbatasan Aceh. keberadaan dayah di kawasan perbatasan memiliki arti strategis. Selain menjadi pusat pendidikan Islam, dayah dapat menjadi ruang pembinaan generasi muda agar memiliki pemahaman agama yang kuat, berakhlak, mencintai tanah air, dan mampu menjaga perdamaian.
Santri harus menjadi pelopor perdamaian dan keadilan serta mampu menjadi benteng akidah di wilayah perbatasan, dengan bekal pendidikan agama, ilmu pengetahuan, dan wawasan kebangsaan, santri diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus berkontribusi dalam pembangunan daerah dan bangsa, tutur Muhsin Thahir.
Apel Tahunan Dayah Perbatasan Darul Amin berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan tersebut turut dihadiri Pimpinan Dayah Perbatasan Darul Amin, Abuya Muchlisin Desky, bersama dewan guru, orang tua santri, serta tamu undangan lainnya.
Rangkaian kegiatan yang melibatkan para santri menjadi penegas bahwa dayah di wilayah perbatasan tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter, penguatan akidah, penanaman semangat kebangsaan, dan pewarisan nilai-nilai perdamaian Aceh untuk generasi mendatang.






